Punya Pabrik Mobil Listrik Terbesar, Pengamat Pastikan Investor Asing Makin Percaya Indonesia

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Pengamat ekonomi dari Unika Atma Jaya Rosdiana Sijabat mengapresiasi peresmian pabrik sel baterai dan kendaraan listrik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang, Jawa Barat.

Pabrik sel baterai yang diresmikan oleh Presiden Jokowi dan didampingi oleh Menteri Investasi Bahlil Lahadalia ini merupakan pabrik sel baterai terbesar di Asia Tenggara yang membawa angin segar bagi masyarakat Indonesia, serta membangun kepercayaan bagi para investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.

“Tentu ini perkembangan bagus, walau bagaimanapun yang namanya industri baru dibuka, manufaktur baru dibuka kemudian itu penyerapan tenaga kerja, menciptakan lapangan kerja, bagi perekonomian kita itu sesuatu yang baik,” kata Rosdiana Sijabat saat dihubungi, Kamis (04/07/2024).

Selain membuka lapangan kerja baru, hadirnya pabrik sel baterai ini membangun kepercayaan bagi investor asing. Selain itu, kehadiran pabrik sel baterai ini juga sebagai komitmen Indonesia untuk masuk ke dalam kompetisi produk baterai dan kendaraan listrik dunia.

“Disisi yang lain, lebih penting dari itu masuknya investor dari Korea Selatan ke Indonesia itu penting untuk menunjukkan bahwa investor Asean itu percaya kepada perekonomian Indonesia, dan ada daya tarik untuk investor asing datang ke Indonesia untuk melakukan aktivitas bisnisnya,” ujarnya.

“Bagi mereka ini merupakan sinyal yang baik dan bisa juga menarik investor-investor asing lainnya ke Indonesia, dimana setiap negara saat ini berusaha untuk mendapatkan investor asing. Jadi poinnya adalah itu bagus bagi perekonomian kita tentunya,” sambungnya.

Menurut dosen ekonomi dan bisnis Unika Atma Jaya ini, satu tahun ke depan kursi pemerintahan Indonesia akan berpindah tangan yang mana akan ada transisi pemerintahan. Oleh sebab itu, hadirnya pabrik sel baterai ini menjadi langkah baik bagi pemerintahan baru ke depan dalam menarik investor dari luar.

“Kita itu akan mengalami transisi dari pemerintahan Pak Jokowi ke Pak Prabowo, kita perlu memastikan bahwa datangnya investor asing itu menjadi tanda bahwa pengelolaan ekonomi maupun pengelolaan politik di dalam negeri itu berjalan dengan baik,” ucapnya.

Dijelaskan Rosdiana, Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang besar, terkhusus nikel. Namun, ketersediaan cadangan nikel yang besar ini belum seimbang dengan sumber daya manusia dna teknologi yang dimiliki Indonesia.

“Berbicara mengenai cadangan nikel kita bisa dikatakan cadangan nikel kita sangat besar, tetapi mungkin kalau kita bandingkan dengan kemampuan teknologi kita, kemampuan pengelolaan kita masih banyak hal yang perlu diperbaiki, meskipun cadangan negara kita itu paling tinggi tetapi kalau kita bandingkan dengan kemampuan kita dalam hal menghasilkan litium, kita harus belajar ke banyak negara-negara lain yang menjadi penghasil litium terbesar di dunia dari sisi teknologi, dari sisi bagaimana mereka meningkatkan value added,” jelasnya.

Salah satu contoh, kata Rosdiana, Australia merupakan negara yang produksi litiumnya terbesar di dunia, dan juga negara seperti Cina termasuk negara 5 terbesar dunia penghasil litium terbesar.

“Walaupun kita punya cadangan nikel terbesar di dunia tetapi kapasitas produksi tambang kita di bidang ini juga masih kalah dibandingkan dengan negara-negara lain yang sebenarnya cadangan nikel mereka itu kalah dengan Indonesia, kita bandingkan dengan misalnya Cina, Australia dan Kanada itu kapasitas produksi tambangnya, kita itu jauh masih di bawah mereka,” akuinya.

“Artinya kita punya kapasitas secara sumber daya alam iya, tetapi secara kapasitas bagaimana kita menghasilkan produktivitasnya itu, yang perlu kita pikirkan bersama-sama pemerintah adalah bagaimana mengelolanya dengan baik agar bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” tambah Rosdiana.

Rosdiana pun mengapresiasi gerak cepat Menteri Investasi Bahlil Lahadalia yang sudah berhasil mendatangkan investor asing dari Korea Selatan, yakni PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power untuk berinvestasi di Indonesia. Apalagi, saat ini Indonseia telah menerapkan sistem baterai yang terintegrasi dari hulu sampai hilir.

“Kita apresiasi Pak menteri (Bahlil) ya. Kalau memang pemerintah kita gencar untuk mengembangkan kendaraan listrik berbasis baterai, tentu yang kita harus bangun adalah ekosistemnya, mau tidak mau tetapi kita bisa melihat bahwa kalau dari sisi keberadaan mobil listrik di seluruh dunia, itu tentu kita belum masuk di dalam listnya,” bebernya.

“Jadi mobil listrik yang ada di seluruh dunia ini bisa dikatakan itu masih didominasi oleh Cina di atas 50%, mobil listrik maupun yang hybrid itu dikuasai oleh Cina, kemudian negara-negara lain yang umumnya adalah negara-negara maju seperti Amerika, Jerman, Inggris dan Perancis itu negara-negara yang memiliki peredaran mobil listrik terbanyak di negaranya,” tutupnya. (***)

Komentar