Kebocoran Data Nasabah Bank Mandiri Sebabkan Turunnya Kepercayaan Publik

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Kebocoran data nasabah yang dialami Bank Mandiri baru-baru ini telah memicu kekhawatiran besar di kalangan masyarakat. 

Insiden ini tidak hanya menyoroti kelemahan dalam sistem keamanan siber, tetapi juga berdampak langsung pada kepercayaan nasabah terhadap institusi perbankan di era digital. 

Pengamat ekonomi kreatif dan digital, Febryan Wishnu, menilai bahwa kejadian ini memiliki konsekuensi besar bagi sektor perbankan dan ekonomi kreatif secara keseluruhan.

“Keamanan siber bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak di dunia perbankan yang mendukung ekonomi kreatif,” ujar Wishnu saat dihubungi, Senin (30/09). 

Menurutnya, perbankan modern sangat bergantung pada infrastruktur digital yang aman untuk menjalankan operasi sehari-hari. 

Tanpa jaminan keamanan, nasabah akan merasa ragu dan bisa kehilangan kepercayaan terhadap bank, seperti yang saat ini tengah dialami Bank Mandiri.

Wishnu menambahkan bahwa kebocoran data seperti ini dapat menghambat kepercayaan konsumen secara keseluruhan. 

“Kebocoran data seperti ini dapat menghambat kepercayaan konsumen. Oleh karena itu, penting bagi bank untuk memperkuat keamanan siber sebagai fondasi untuk mendorong inovasi lebih lanjut,” tegasnya. 

Kepercayaan adalah elemen dasar dalam setiap transaksi, dan tanpa itu, operasional bank akan terganggu.

Selain berdampak langsung pada nasabah, insiden ini juga berpotensi menyebabkan instabilitas di pasar keuangan. 

“Insiden kebocoran data yang masif dari lembaga keuangan besar seperti Bank Mandiri dapat menyebabkan instabilitas sementara di pasar keuangan, terutama jika kepercayaan nasabah terhadap bank berkurang drastis,” jelasnya. 

Ketika nasabah kehilangan kepercayaan, hal itu bisa berdampak pada stabilitas keuangan, termasuk penurunan investasi dan potensi kehilangan nasabah.

Dampak dari kebocoran ini tidak hanya terbatas pada sektor perbankan. Wishnu juga menyoroti bagaimana hal tersebut dapat memengaruhi potensi kolaborasi antara sektor keuangan dan sektor ekonomi kreatif. 

“Jika bank gagal menjaga keamanan, potensi kolaborasi antara sektor keuangan dan sektor kreatif bisa menurun, karena kepercayaan adalah kunci dalam setiap transaksi atau hubungan bisnis,” kata Wishnu. 

Keamanan data menjadi kunci untuk memastikan hubungan yang baik antara bank dan industri kreatif yang sangat bergantung pada ekosistem digital yang aman.

Dalam konteks regulasi, Wishnu mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas. “Pemerintah, melalui Kementerian BUMN dan regulator keuangan, harus memperketat regulasi terkait keamanan siber di sektor perbankan,” tuturnya. 

Menurutnya, pengawasan yang lebih ketat dan penerapan standar keamanan siber yang lebih tinggi sangat diperlukan untuk mencegah insiden serupa di masa depan dan memulihkan kepercayaan masyarakat.

Lebih jauh Wishnu, langkah-langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan nasabah harus segera diambil oleh Bank Mandiri dan lembaga perbankan lainnya. Kepercayaan publik, kata Wishnu, merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi di era digital.

Komentar