Punya Kapasitas di Bidang Hukum dan Politik, Yusril Layak Masuk Kabinet Prabowo-Gibran

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober mendatang, tersiar kabar bahwa Prabowo telah memilih jajaran menteri untuk membantunya di pemerintahan baru.

Ada beberapa nama potensial dari kalangan politisi dan profesional mulai bermunculan, salah satunya adalah pakar hukum tata negara sekaligus mantan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra (YIM). Dengan pengalaman panjang di bidang hukum dan politik, sejumlah pengamat menilai Yusril layak menduduki salah satu kursi menteri.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menyebut, masuknya nama Yusril dalam bursa calon menteri Prabowo-Gibran sudah bisa diprediksi sejak lama. Menurutnya, Yusril memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam kabinet sebelumnya dan memiliki kedekatan dengan Prabowo.

“Ya, kalau saya sih sudah memprediksi jauh-jauh hari menganalisa Yusril akan masuk. Kenapa? Karena kita pernah lihat pada tahun 2004 ketika PBB masuk koalisi SBY, itu dari awal sudah terlihat Yusril akan menjadi menteri ketika SBY menang. Ini situasinya hampir sama dengan 2004. Sekarang, PBB dan Yusril dari awal sudah masuk koalisi Prabowo,” kata Ujang Komarudin saat dihubungi, Selasa (24/09/2024).

Menurut Ujang, keputusan PBB untuk bergabung dalam koalisi Prabowo-Gibran di Pilpres 2024 tentu membawa harapan besar bahwa Yusril akan mendapat jatah kursi menteri, mengingat posisi strategis partai dalam mendukung kemenangan pasangan tersebut.

“Tujuannya jelas, kalau masuk koalisi pasti ingin diganjar kursi menteri. Kita tahu di periode Jokowi, partai-partai non-parlemen seperti PBB tidak ada yang mendapatkan kursi menteri. Nah, peluang di Prabowo ini besar, karena Prabowo dan Yusril saling membutuhkan. Yusril punya kapasitas dan pengalaman, Prabowo butuh orang-orang yang mampu memperkuat pemerintahannya. Jadi kemungkinan besar Yusril akan mendapat jatah menteri,” ucapnya.

Selain berbicara soal strategi politik, Ujang juga menilai bahwa dari sisi kompetensi, Yusril sangat layak ditempatkan dalam pos kementerian yang berkaitan dengan hukum. Sebagai pakar hukum tata negara, Yusril memiliki keahlian dan pengalaman dalam merumuskan kebijakan hukum di level nasional.

“Dari kompetensi Yusril, beliau adalah pakar hukum. Kalau jadi menteri bidang hukum, itu bagus dan sangat cocok. Apalagi, beliau pernah menjabat di beberapa posisi strategis, termasuk Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM) di era sebelumnya. Jadi, secara kapasitas dan pengalaman, Yusril sangat tepat untuk posisi itu, meskipun PBB merupakan partai non-parlemen,” jelas Ujang.

Lebih jauh, Ujang juga menyoroti bagaimana politik akomodasi atau pembagian kekuasaan (power sharing) sudah menjadi hal umum dalam penyusunan kabinet koalisi di Indonesia.

“Ya, semuanya adalah power sharing, akomodasi politik itu bukan sesuatu yang aneh. Itu sudah umum dalam teori maupun praktik politik. Jadi, selain karena kepakarannya di bidang hukum, Yusril juga punya hubungan yang baik dengan Prabowo,” ungkapnya.

“Tidak hanya itu, dia juga telah berjuang untuk memenangkan Prabowo-Gibran. Paling tidak, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni keahliannya, kedekatannya dengan Prabowo, dan kontribusinya dalam pemenangan ini,” sambung Ujang.

Ujang menambahkan bahwa dalam susunan kabinet, nama Yusril sering disebut-sebut sebagai calon kuat untuk posisi Menteri Hukum dan HAM, jabatan yang dianggap paling sesuai dengan latar belakang dan keahliannya.

“Saya dengar, Yusril diusulkan untuk menjadi Menteri Hukum dan HAM. Tidak tahu apakah kementerian ini nanti akan dipisah menjadi dua jabatan terpisah atau tetap digabung,” ucapnya.

Dengan rekam jejaknya sebagai pakar hukum tata negara dan pengalamannya yang panjang dalam dunia pemerintahan, Yusril dipandang sebagai salah satu kandidat menteri yang kuat, terutama untuk mengawal agenda reformasi hukum dan penegakan HAM.

“Yang jelas, Yusril sangat cocok di posisi ini karena dia memang pakarnya. Selain itu, Prabowo sendiri kan ingin membentuk zaken kabinet, kabinet kerja yang profesional. Dengan latar belakang Yusril, saya rasa itu langkah yang tepat,” pungkasnya. (***)

Komentar