LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana, menyatakan penting dan strategisnya mengembalikan memori kolektif masyarakat terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam konteks global, melalui peristiwa Konferensi Asia Afrika dan gagasan Conference of the New Emerging Forces atau Conefo.
Hal itu dikatakan Bonnie Triyana dalam Dialektika Demokrasi bertajuk “Spirit Conefo dan Relevansinya dengan Masa Kini”, di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (24/7/2025).
“Kita berada di gedung ini (Gedung Nusantara,red) yang dulunya dirancang bukan sebagai gedung parlemen, tapi sebagai tempat konferensi kekuatan baru dunia — Conference of the New Emerging Forces,” ujar Bonnie.
Dijelaskannya, semangat anti-kolonialisme dan solidaritas global bangsa-bangsa Asia-Afrika lahir jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, dari interaksi intelektual para aktivis di Eropa pada era 1920-an.
“Nasionalisme Indonesia tidak lahir semata-mata sebagai reaksi terhadap kolonialisme Belanda, tapi juga dari pergaulan para pemikir Asia dan Afrika di luar negeri,” ungkapnya.

Politikus PDI Perjuangan itu menyebut nama-nama tokoh seperti Bung Hatta, Sam Ratulangi, dan Arnold Mononutu sebagai figur penting dalam jaringan internasional pembebasan bangsa.
Bonnie juga menyoroti pentingnya memori kolektif bangsa, yang menurutnya “hilang dari ruang publik.” Misalnya, banyak nama jalan diambil dari tokoh-tokoh bersejarah, namun masyarakat tidak tahu siapa mereka sebenarnya.
Dijelaskannya, Konferensi Asia Afrika 1955 bukan sekadar peristiwa diplomatik, melainkan sebuah gerakan lintas profesi dan negara. Gerakan ini melahirkan berbagai organisasi masyarakat sipil seperti asosiasi jurnalis, dokter, pengarang, hingga pengacara Asia-Afrika.
Ia juga menyinggung Conefo sebagai kelanjutan dari semangat Asia-Afrika.
Conefo dirancang sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi barat, termasuk sebagai protes Bung Karno terhadap IOC yang menolak keikutsertaan Indonesia karena pelarangan Israel dan Taiwan dalam Asian Games 1962,” jelasnya.
Gedung DPR saat ini, kata Bonnie, adalah bagian dari proyek besar Bung Karno untuk membangun pusat pertemuan internasional yang memperjuangkan tatanan dunia baru yang adil dan setara.
“Spirit gedung ini adalah anti-penindasan, spirit kesetaraan,” tegasnya.
Bonnie juga menyinggung peran Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Aljazair, Palestina, dan Afrika Selatan. Ia mengisahkan tentang Lahdar Brahimi, tokoh kemerdekaan Aljazair yang tinggal di Indonesia dan mendapat dukungan langsung dari Bung Karno.
“Indonesia memberikan pelatihan militer dan bantuan logistik. Bahkan dua tokoh dari Afrika Selatan datang ke Konferensi Bandung sebagai observer dan terinspirasi dari gerakan tersebut. Ini bukan retorika, ini nyata,” katanya.
Terakhir, Bonnie menyerukan untuk mengembalikan semangat dan memori sejarah ke dalam ruang publik.
“Yang harus dilindungi bukan hanya bangunan, tapi juga gagasan dan spirit besar di baliknya,” kata Bonnie.
Di acara yang sama, Dosen Sejarah dari Universitas Gajah Mada, Wildan Sena Utama, menambahkan, Conefo adalah sebuah aksi merealisasikan visinya dalam dunia baru.
“Conefo aksi yang kongret Bung Karno, juga proyek besar Bung Karno melawan penjajahan serta aksi politik internasional Bung Karno untuk dekolonialisasi dunia mewujudkan dunia baru,” kata Wildan.
Sementara anggota senior Ikatan Arsitek Indonesia, Budi A Sukada menjelaskan, Gedung Nusantara ini berarsitek modern.
Cirinya menurut Budi, sebanyak mungkin menghilangkan unsur vertikal bangunan sebagai upaya memastikan kesetaraan dan keseimbangan,” ungkap Budi.
Dikatakannya, bangunan Nusantara ini sudah jadi cagar budaya dan tidak boleh diapa-apakan lagi.
“Masalahnya, tanah tersedia tidak mungkin lagi mampu menampung kebutuhan parlemen,” kata Budi.
Karena itu, Budi menyarankan tinjau status cagar budayanya sehingga bisa dikembangkan secara maksimal dan seimbang.
“Kalau tidak mau tinjau status cagar budaya Gedung Nusantara ini, parlemennya pindah saja ke IKN,” usulnya.
Ditanya soal arsitek ibu kota negara atau IKN, Budi menegaskan tidak jelas.
“IKN arsitekturnya tidak jelas. Kalau Conefo ini jelas arsitek bangunannya modern.
Gedung Nusantara didisain dengan prinsip keseimbangan dan tanpa tiang-tiang,” pungkasnya.







Komentar