Oleh: M. Azis Tunny
Ketum BPD HIPMI Maluku, 2021-2024
Suasana di Istana Negara pada tanggal 25 Agustus 2025 berlangsung penuh khidmat. Dalam sebuah upacara kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto menyerahkan tanda kehormatan berbentuk salempang dengan patra dan miniatur bintang kepada sejumlah tokoh bangsa.
Salah satu penerima penghargaan itu adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Presiden Prabowo menganugerahkan Bintang Mahaputra Adipurna kepada Bahlil, atas keberhasilannya yang transformasional di bidang energi, investasi, dan hilirisasi mineral.
Bintang Mahaputra Adipurna merupakan penghargaan sipil tertinggi di Indonesia yang diberikan kepada individu dengan jasa luar biasa dalam menjaga keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penganuherahan ini bukan sekadar pengakuan simbolis, melainkan penegasan keberhasilan kebijakan strategis yang telah mengubah lanskap energi dan industrial Indonesia.
Momen itu bukanlah sebuah kejutan. Ia adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang, sebuah pengakuan formal atas kerja keras, keberanian, dan visi seorang Bahlil dalam mentransformasi lanskap energi dan investasi Indonesia, mewujudkan visi besar Presiden Prabowo menuju kedaulatan energi nasional.
Bahlil Lahadalia bukanlah politisi atau teknokrat biasa. Latar belakangnya sebagai pengusaha sukses dan praktisi kebijakan memberinya perspektif unik. Kemampuan leadershipnya mampu memahami kompleksitas birokrasi dengan naluri tajam dalam membaca peluang investasi.
Sejak ditugaskan memimpin Kementerian ESDM dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil seperti menemukan medan tempurnya. Ia tidak hanya mengurusi administrasi, tetapi menjadi arsitek utama yang merancang fondasi industrialisasi Indonesia melalui dua senjata andalan yakni hilirisasi mineral dan investasi strategis.
Prestasi paling gemilang Bahlil terletak pada percepatan hilirisasi mineral, khususnya nikel. Kebijakannya tidak lagi sekadar melarang ekspor bijih nikel mentah, tetapi membangun ekosistem industri hilir yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Berkat tangan dinginnya, Indonesia tidak hanya menjadi penjual bahan mentah, tetapi produsen nilai tambah tertinggi.
Proyek monumental yang lahir dari kebijakannya adalah pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi terbesar di dunia. Dengan menggandeng konsorsium investasi raksasa, proyek senilai miliaran dolar AS ini membangun pabrik pengolahan nikel, pabrik precursor cathode active material (PCAM), pabrik baterai, hingga perakitan mobil listrik dalam satu kawasan.
Proyek ini bukan hanya tentang angka investasi yang berkontribusi signifikan terhadap penerimaan negara dan penghematan devisa melalui pengurangan impor, tetapi tentang penciptaan ribuan lapangan kerja berkualitas, alih teknologi, dan yang terpenting, memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam revolusi industri kendaraan listrik global.
Bahlil dikenal dengan pendekatannya yang blak-blakan dan tegas. Ia tidak segan menegur investor yang lambat merealisasikan investasinya, atau mencabut izin perusahaan yang dianggap melanggar aturan.
“Kita tidak butuh investasi yang merugikan bangsa. Kita butuh kemitraan yang setara dan saling menguntungkan,” ujarnya suatu kali, mencerminkan komitmennya pada kedaulatan ekonomi.
Di tengah perlambatan ekonomi global, Bahlil menunjukkan keberhasilannya dalam menarik investasi strategis yang sejalan dengan agenda nasional. Ia bukan hanya menunggu investor datang, tetapi aktif “menjemput bola” dengan pendekatan personal dan memberikan kepastian kebijakan.
Investasi-investasi ini diarahkan bukan pada sektor konsumtif, tetapi pada proyek-proyek infrastruktur energi dan industri padat modal yang menjadi tulang punggung transformasi ekonomi.
Dalam bidang Energi Baru Terbarukan (EBT), Bahlil berperan sebagai katalisator. Ia memahami bahwa kedaulatan energi tidak akan tercapai jika Indonesia masih bergantung pada energi fosil. Melalui berbagai kebijakan insentif dan kemudahan perizinan, ia berhasil menarik investasi besar-besaran dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), bayu (angin), panas bumi, dan hidro.
Kebijakannya tersebut mendorong proyek-proyek green energy yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menjamin pasokan energi yang berkelanjutan dan mandiri untuk masa depan.
Kebijakan Bahlil sepenuhnya selaras dengan visi Presiden Prabowo untuk mencapai swasembada energi dalam 5 hingga 6 tahun kedepan. Pemberian Bintang Mahaputra Adipurna ini merupakan cerminan dari keselarasan sempurna antara pelaksana kebijakan (Bahlil) dan pemegang visi (Presiden Prabowo).
Visi Prabowo untuk menjadikan Indonesia negara dengan ekonomi yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian menemukan implementasinya yang nyata di tangan Bahlil.
Presiden Prabowo percaya bahwa Indonesia “bisa swasembada energi” dalam waktu dekat, dan Bahlil menjadi aktor kunci dalam mewujudkan visi tersebut melalui langkah-langkah konkret di sektor ESDM. Penghargaan Bintang Mahaputra Adipurna kepada Bahlil menegaskan keseriusan pemerintah dalam menjadikan energi sebagai pilar kedaulatan nasional.
Setiap kebijakan hilirisasi dan investasi yang dijalankan Bahlil adalah jembatan konkret menuju visi besar tersebut. Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi atas dedikasi dan keberaniannya dalam mengambil keputusan-keputusan strategis yang tidak populer namun sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa.
Pemberian Bintang Mahaputra Adipurna kepada Bahlil merupakan pengakuan tertinggi atas jasa-jasanya yang transformasional di sektor energi dan investasi. Melalui kebijakan hilirisasi mineral dan pengembangan EBT, Bahlil tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meletakkan fondasi kokoh untuk kemandirian energi Indonesia sesuai visi Presiden Prabowo.
Penghargaan ini juga mengirimkan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa kerja keras dan dedikasi untuk bangsa akan dihargai setinggi-tingginya. Keberhasilan Bahlil menjadi inspirasi bagi seluruh aparatur negara untuk berpikir visioner, bertindak strategis, dan berani mengambil langkah-langkah breakthrough demi kedaulatan dan kejayaan Indonesia di panggung global.
Bintang Mahaputra Adipurna yang diterima Bahlil Lahadalia adalah lebih dari sekadar apresiasi dan penghargaan individu. Ia adalah simbol keberhasilan kolektif bangsa Indonesia dalam mengambil alih kendali atas sumber daya alamnya sendiri. Ia adalah pengakuan bahwa dengan political will yang kuat, keberanian dalam kebijakan, dan eksekusi yang teguh, Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (AT)







Komentar