Oleh: M. Azis Tunny
Seperti percikan api yang jatuh pada tumpukan sekam kering, kematian Affan Kurniawan menjadi trigger yang memantik sebuah ledakan yang sudah lama dipersiapkan oleh bara kemuakan.
Situasi ini menunjukkan betapa dalamnya luka, ketika rakyat muak bukan saja pada kebijakan pemerintah yang tidak populis, tetapi pada perilaku elit politik yang koruptif, manipulatif, dan hedonis.
Jakarta, dan kemudian Indonesia, terbakar oleh api yang bahan bakarnya dari rasa frustasi, ketidakadilan, dan pengkhianatan yang terakumulasi. Api itu menyala tanpa komando, tanpa pusat, membakar segala narasi usang tentang keterlibatan tangan asing. Ini adalah ekspresi kemarahan jiwa-jiwa yang terluka, sebuah demonstrasi ‘nirkepala’ yang menjadi cermin retaknya legitimasi negara di mata rakyatnya.
Kota Jakarta, seperti biasa, diselimuti oleh kabut polusi dan deru mesin. Namun, di Jumat kemarin, kabut itu seakan tergantikan oleh asap membara yang keluar dari dalam dada ribuan manusia.
Mereka berjalan, bukan dari satu titik yang sama, tetapi dari berbagai sudut kehidupan yang berbeda. Ini bukan aksi yang direncanakan oleh serikat buruh dengan tuntutan upah minimum, bukan pula longmarch mahasiswa dengan agenda bubarkan DPR atau pengesahan RUU perampasan aset.
Mereka adalah pengemudi ojek, ibu rumah tangga, karyawan swasta, atau pelajar STM. Wajah-wajah biasa yang sehari-hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Hari ini, wajah-wajah itu menyatu dalam satu alasan.
Aksi dimulai dengan damai, menyuarakan kemarahan atas kematian Affan Kurniawan. Tapi bagi banyak orang, Affan hanyalah sebuah simbol, sebuah katalis yang memecah bendir penahan amarah yang telah dibangun bertahun-tahun.
Amarah itu adalah amarah kumulatif. Ia adalah endapan pahit dari setiap berita korupsi yang dibongkar namun pelakunya bebas berkeliaran, dari setiap kebijakan yang hanya menguntungkan oligarki, dari setiap sikap arogan pejabat yang menganggap rakyat sebagai pelengkap derita.
Energi demonstrasi ini bukan berasal dari ideologi tertentu, melainkan dari rasa muak kolektif terhadap perilaku koruptif, manipulatif, dan hedonis elit politik yang telah mengkhianati amanah rakyat.
Lalu, aksi pun meluas. Dari Jakarta ke Medan, Surabaya, Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, hingga Makassar. Seperti gelombang pasang, kemarahan yang terpendam itu menemukan salurannya. Mengerikan lagi adalah, aksi ini mulai kehilangan bentuk dan fokus.
Tuntutan spesifik tentang kasus Affan dan reformasi institusi Polri atau Pembubaran DPR tenggelam dalam lautan amarah yang lebih besar dan tak terbendung. Puluhan kendaraan terbakar, kantor polisi dan gedung DPRD dibakar, jalanan diblokir, dan bentrok dengan aparat tak terhindarkan. Ini adalah gejala berbahaya. Ketika protes yang legitimate berubah menjadi anarki karena saluran aspirasi yang resmi dianggap sudah tuli.
Aksi ini dengan cepat kehilangan fokus spesifik. Tuntutan yang menjadi agenda demonstrasi sebelumnya kini melebar menjadi luapan emosi yang sulit dikendalikan, bahkan berujung anarkis. Inilah ciri khas gerakan nirkepala (headless movement), gerakan tanpa struktur kepemimpinan tunggal, tanpa hierarki komando, dan tanpa agenda terpusat.
Gerakan seperti ini sulit dikendalikan, sulit dinegosiasikan, dan berpotensi menjadi lebih berbahaya karena energinya murni berasal dari emosi massa yang terdesentralisasi.
Di tengah kekalutan ini, muncul narasi yang justru mengalihkan pokok persoalan. Pakar intelijen yang sudah lama pensiun dengan mudah menuduh ada “tangan asing” atau “dalang” yang menggerakkan aksi.
Tuduhan yang terkesan serampangan dan kalut, sebuah upaya untuk mengkambing-hitamkan dan menutupi akar masalah yang sesungguhnya, bahwa telah terjadi krisis kepercayaan rakyat terhadap institusi negara.
Rakyat tidak perlu didalangi untuk marah. Mereka marah karena mereka lapar, karena mereka melihat haknya dikorupsi, karena mereka merasa dipermainkan.
Presiden Prabowo Subianto kini berada di persimpangan sejarah. Momentum ini adalah ujian sesungguhnya bagi kepemimpinannya. Bila ia ingin dikenang sebagai pemimpin yang mendengarkan denyut nadi rakyat, bukan hanya sebagai penerus kekuasaan, maka ia harus berani mengambil langkah radikal.
Perbaikan sistem pemerintahan harus dimulai dari membersihkan lingkaran dari dalamnya sendiri. Orang-orang di sekelilingnya harus segera menanggalkan perilaku power syndrom dan mental pemenang yang arogan.
Jangan sampai mereka, seperti benalu, terus mencari panggung dengan menempel pada popularitas Prabowo, sambil menunjukkan sikap seolah-olah paling berjasa dan superior. Sikap seperti inilah yang justru memantik kemarahan dan memperdalam jurang antara pemerintah dan yang diperintah.
Pada akhirnya, api yang membara di jalan-jalan adalah cermin dari api dalam sekam yang telah lama menyala di dalam hati rakyat. Mereka tidak meminta yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin dihormati, didengarkan, dan diurus dengan jujur.
Kematian satu orang bisa menjadi pemantik, tetapi yang menyulut lautan amarah ini adalah perilaku elit politik yang sudah terlalu lama abai dan bermain api.
Prabowo perlu bersikap taktis dan strategis. Bukan dengan kekerasan atau represi yang justru memperbesar bola salju protes, tetapi dengan kebijakan nyata yang menyentuh kebutuhan rakyat, transparansi dalam pemerintahan, dan pendekatan yang rendah hati.
Mendengarkan suara jalanan adalah keharusan, sebelum gelombang kemarahan nirkepala ini berubah menjadi gerakan terstruktur yang benar-benar sulit dikendalikan.
Saatnya pemerintah menyadari bahwa gelombang ini adalah teguran keras. Sejarah menunggu untuk dicatat dengan tinta emas atau dibiarkan menjadi noda hitam yang abadi. (AT)







Komentar