LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Pengusul tunggal revisi Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, Willy Aditya menemui para pegiat literasi di Kota Padang untuk mendengar aspirasi tentang perbukuan.
Dalam pertemuan terbuka yang digelar di Kafe Literasi Steva itu, anggota DPR RI Willy Aditya itu lebih banyak mengambil posisi sebagai pendengar berbagai keluhan dari penulis, pengelola taman bacaan, pemilik toko buku kecil, dan aktivis mahasiswa.
“Pertemuan ini dalam rangka meaningful participation, diskusi dalam rangka Belanja Masalah, untuk RUU Perbukuan, usul inisiatif pribadi saya sebagai anggota DPR,” kata Willy, melalui rilisnya, Senin (6/10/2025).
Selama diskusi berlangsung, lanjut Ketua Komisi XIII DPR RI itu, para peserta menyampaikan sejumlah hal krusial, mulai dari sulitnya menemukan buku karya penulis lokal ditemukan, minimnya anggaran untuk taman bacaan masyarakat hingga ketimpangan akses pasar antara penerbit besar dan toko buku kecil.
“Beberapa penulis mengusulkan agar pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk membeli buku yang diberikan untuk perpustakaan-perpustakaan daerah,” ungkapnya.
“Ada pula yang menyikapi praktik penyitaan buku oleh aparat, yang dinilai mengancam kebebasan literasi. Mereka berharap RUU Perbukuan juga mengatur hal tersebut,” imbuhnya.
Selain itu, kata Willy, seorang pegiat taman bacaan masyarakat mengeluhkan kondisi taman-taman bacaan masyarakat yang memprihatinkan. Mereka mengalami kekurangan dana untuk meneruskan kegiatan, sementara dukungan dari pemerintah juga minim.
“Juga disampaikan soal persaingan toko buku kecil dengan penerbit besar, karena ada penerbit besar yang langsung menjual buku ke sekolah dengan diskon besar kepada pihak sekolah sehingga siswa bisa membeli buku lebih murah daripada ke toko-toko buku,” ungkapnya.
Willy yang juga berasal dari Sumatera Barat itu menegaskan mencatat seluruh masukan yang disampaikan dan menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan parlemen untuk mendorong pengesahan RUU ini.
“Teman-teman harus tahu, RUU tentang Perbukuan ini adalah inisiatif pribadi saya. Dan DPR itu tidak monolitik, ada 580 orang, yang memiliki isi kepala berbeda-beda. Saya akan melakukan tugas saya memastikan fraksi-fraksi DPR lainnya mendukung RUU ini,” ujarnya.
“Sementara teman-teman mendorong dari luar agar DPR mengesahkan ini. Kita walk hand in hand untuk ini,” pungkasnya.







Komentar