LIPUTAN.CO.ID, Makassar – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Rinto Subekti, menyatakan pemenuhan hak-hak dasar warga binaan merupakan kewajiban konstitusional yang tidak dapat ditawar.
Menurutnya, warga binaan tetaplah bagian dari masyarakat Indonesia yang harus mendapatkan jaminan perlakuan manusiawi sesuai prinsip hak asasi manusia atau HAM.
“Pendekatan pemasyarakatan bukan cuma sekadar memberikan hukuman, sekaligus memastikan pembinaan berlangsung dengan standar yang menghormati martabat manusia,” kata Rinto Subekti, usai memimpin kunjungan kerja reses Komisi XIII DPR RI ke Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (12/12/2025).
Kunjungan Kerja Komisi XIII ke Rutan Kelas I Makassar, lanjut Rinto, menjadi sarana bagi Komisi XIII untuk melihat langsung sejauh mana prinsip tersebut dijalankan.
Dalam peninjauan awal, Rinto memerhatikan kondisi umum Rutan, termasuk fasilitas dan alur layanan yang diberikan kepada warga binaan. Ia menilai, pemenuhan HAM tidak hanya bergantung pada jumlah fasilitas, tetapi juga pada kualitas pengelolaan dan konsistensi pelayanan.
“Rumah Tahanan memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan setiap layanan, mulai dari kesehatan, kebersihan, hingga akses terhadap pembinaan terkoordinasi dengan baik dan tidak diskriminasi,” tegasnya.
Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah dapur sehat yang menjadi sumber penyediaan makanan bagi warga binaan setiap hari.
Dalam kunjungan tersebut, Rinto menyaksikan proses pengolahan makanan, pengecekan bahan baku, serta penataan menu harian, yang dinilainya sudah berjalan sesuai standar, di mana makanan dipastikan tetap higienis, tersaji panas, dan memiliki kandungan gizi yang memadai.
“Kami melihat sendiri bagaimana kualitas makanan dijaga. Variasi menu dari pagi hingga malam menunjukkan upaya serius dalam memenuhi hak dasar warga binaan,” ungkapnya.
Selain hak atas pangan, Rinto juga menyoroti aspek pembinaan moral dan spiritual sebagai bagian penting dari pemenuhan HAM dalam konteks pemasyarakatan. Ia meninjau kegiatan pengajian, salawat, dan pendalaman rohani yang diikuti warga binaan.
“Penguatan mental dan spiritual ini tidak hanya membantu menjaga ketenangan selama menjalani masa tahanan, tetapi juga menjadi bekal penting ketika mereka kembali ke masyarakat,” kata Rinto.
Ia menilai pendekatan ini mampu membantu warga binaan membangun kembali pondasi moral dan orientasi hidup yang lebih baik.
Selain itu, Komisi XIII DPR RI juga mencermati program pemberdayaan ekonomi berupa pelatihan ekonomi kreatif yang diselenggarakan Rutan, mulai dari barbershop, tenun, hingga keterampilan lain yang memiliki nilai produktif.
Ia menilai bahwa pemberdayaan ini sangat relevan dalam membantu warga binaan memperoleh keahlian yang dapat digunakan setelah masa pidana selesai.
“Keterampilan seperti ini memberi peluang bagi mereka untuk mandiri dan mengurangi potensi kembali ke lingkaran kejahatan,” tuturnya.
Menurutnya, konsep pembinaan harus benar-benar menghasilkan transformasi, bukan sekadar rutinitas.
Di sisi lain, pemenuhan hak pendidikan dasar juga menjadi bagian penting dari pengawasan Komisi XIII. Rinto mengapresiasi adanya kelas baca-tulis bagi warga binaan yang masih buta huruf. Ia menyebut program ini merupakan manifestasi perlindungan HAM karena akses terhadap pendidikan merupakan hak universal, tidak terkecuali bagi warga binaan.
Kemampuan membaca dan menulis dinilai sangat penting sebagai fondasi untuk membuka peluang belajar lanjutan dan memperluas kesempatan kerja setelah bebas.
Pada penutup rangkaian kunjungan, Rinto menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kepala Rutan, Kakanwil Kemenkum dan KemenHAM Sulsel, serta seluruh jajaran atas upaya pembinaan yang telah dilakukan. Ia menilai program-program di Rutan Kelas I ini Makassar memperlihatkan arah pembinaan yang semakin progresif, terstruktur, dan berorientasi pada pemulihan fungsi sosial warga binaan.
Politisi Fraksi Partai Demokrat ini menegaskan bahwa warga binaan tetap memiliki hak untuk dibina dan didayagunakan potensinya sehingga mereka dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang produktif, bertanggung jawab, dan memiliki kesempatan yang sama untuk memulai hidup yang lebih baik.







Komentar