LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menyoroti meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sebagai sinyal serius yang tidak boleh diabaikan.
Ia menilai fenomena tersebut menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Lalu mengungkapkan, berdasarkan catatan Komisi X DPR RI, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 1.000 kasus kekerasan yang terjadi di sekolah dan perguruan tinggi.
Bentuk kekerasan itu beragam, mulai dari verbal hingga fisik.
“Ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita masih menyisakan pekerjaan rumah besar,” kata Lalu dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/1).
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi perhatian utama dan tidak boleh dikesampingkan.
Menurutnya, sekolah dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian serta akhlak peserta didik.
“Pendidikan karakter tidak bisa dikesampingkan, ini penting untuk membentuk karakter dan akhlak siswa,” kata Lalu.
Ia kembali menekankan bahwa ribuan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan merupakan persoalan serius yang membutuhkan penanganan menyeluruh.
Menurutnya, diperlukan langkah-langkah komprehensif untuk memperbaiki sistem pendidikan yang dinilai belum berjalan optimal.
Ketua DPW PKB Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, khususnya lembaga dan instansi terkait, untuk bersama-sama melakukan pembenahan agar tujuan utama pendidikan dapat tercapai.
“Itu yang harus kita luruskan dan perbaiki agar sesuai dengan tujuan dan fungsi utama pendidikan,” tegasnya.
Sorotan ini mengemuka di tengah maraknya kasus kekerasan di sekolah, salah satunya perkelahian antara siswa dan guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Peristiwa tersebut bahkan berujung pada saling lapor antara pihak siswa dan guru ke kepolisian.







Komentar