LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi XII DPR RI, Beniyanto, mengungkap protes nelayan di Morowali khususnya di daerah zona pelabuhan dan laut karena menurunnya hasil tangkapan ikan para nelayan.
Hal itu dikatakan Beniyanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI bersama Direktur Utama PT. Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Beniyanto menduga berkurangnya tangkapan para nelayan ada kaitannya dengan kegiatan bongkar muat bijih nikel di pesisir Morowali.
“Kelompok masyarakat di Morowali melaporkan berkurangnya tangkapan ikan karena bongkar muat biji nikel terutama di zona pelabuhan dan laut,” kata Beniyanto.
Karenanya, politikus Partai Golkar itu minta pihak PT. Vale berkomunikasi dengan masyarakat, guna mencegah gejolak sosial nantinya.
“Kami meminta lakukan komunikasi dan bersosialisasi dengan baik sehingga manfaat PT. Vale buat masyarakat bisa dirasakan,” saran Beniyanto.
Selain menyampaikan keluhan nelayan, Beniyanto juga menekankan pentingnya pengelolaan produk samping dari PT. Vale Indonesia Tbk.
Dikatakannya, penting pengelolaan produk samping nikel hingga dapat menghasilkan penerimaan negara bukan pajak atau PNBP bagi negara dan bisa memberdayakan tenaga kerja penduduk setempat.
Ia berharap ke depan produk samping nikel dapat dikelola secara lebih baik agar tidak menimbulkan limbah nikel yang berserakan di lingkungan sekitar.
“Kami menginginkan dengan keberadaan PT Vale di Morowali bukan cuma memanfaatkan nikel, tapi bisa juga ada industri-industri atau yang sifatnya ada industri produk samping,” ujar Beniyanto.
“Kita lihat masih banyak produk samping yang dihasilkan PT Vale untuk diolah bersama masyarakat sehingga bisa menghasilkan PNBP buat negara,” lanjutnya.
Beniyanto berharap ke depannya produk samping ini bisa dikelola dengan baik sehingga tidak banyak limbah dari nikel ini yang diduga merugikan nelayan.







Komentar