LIPUTAN.CO.ID, Sulsel – Operasi pencarian dan pertolongan terhadap pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar kembali dilanjutkan oleh tim SAR gabungan pada Minggu dini hari.
Upaya ini melibatkan Basarnas sebagai koordinator, BPBD, TNI, Polri, Polairud, PMI, MAPALA, hingga ratusan relawan dari berbagai unsur kemanusiaan.
Keputusan melanjutkan pencarian diambil dalam pengarahan operasi terpadu yang dipimpin Dandim Pangkep pada Sabtu (17/1) malam.
Operasi berada di bawah kendali komando Panglima TNI Kodam XIV/Hasanuddin dan dijadwalkan dimulai pukul 04.00 WITA dengan sistem pembagian sektor serta tim sesuai karakteristik medan pencarian.
Dalam pengarahan tersebut, komando operasi kembali menegaskan pembagian tugas setiap unsur.
BPBD Kota Makassar mendapat peran strategis, dengan tiga personel ditugaskan pada bidang data dan informasi untuk mendukung integrasi data serta kelancaran pelaporan.
Selain itu, tujuh personel BPBD yang memiliki keahlian vertical rescue kembali dipercaya memimpin sejumlah tim pencarian di lapangan.
Penunjukan ini seiring dengan bertambahnya jumlah personel dan relawan yang terus berdatangan sehingga membutuhkan pembentukan lebih banyak tim pencari.
BPBD Kota Makassar menyatakan komitmennya untuk terus terlibat aktif dalam operasi pencarian secara terkoordinasi dan profesional, dengan keselamatan sebagai prioritas utama dalam satu sistem komando terpadu.
Komandan Regu BPBD Kota Makassar, Rahmat, menegaskan kesiapan seluruh personel yang diterjunkan.
“Kami siap bergerak sesuai arahan komando. Personel BPBD Kota Makassar akan fokus pada tugas data dan informasi serta memimpin tim pencarian sesuai keahlian yang dimiliki,” ujarnya.
Pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.17 WITA di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.
Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah turun ke lokasi untuk melakukan pengumpulan data terkait insiden hilangnya pesawat Indonesia Air Transport tersebut di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Maros–Pangkep.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan bahwa pihaknya belum dapat memastikan penyebab kejadian tersebut.
Ia mengakui adanya kendala awal dalam pencarian karena diduga emergency locator transmitter tidak berfungsi.
Meski demikian, fokus utama KNKT saat ini adalah menemukan lokasi jatuhnya pesawat dan mengumpulkan data korban.







Komentar