Tak Cukup Evakuasi, Ijeck Dorong Kurikulum Tanggap Bencana Sejak Dini

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi V DPR RI Musa Rajekshah menilai rangkaian bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus menjadi bahan introspeksi bersama. 

Ia menekankan, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada tahap tanggap darurat semata, melainkan harus disertai langkah jangka panjang yang berorientasi pencegahan.

Politikus Partai Golkar yang akrab disapa Ijeck itu menyebutkan bahwa secara umum penanganan bencana sudah berjalan.

Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada fase pascabencana dan upaya memutus mata rantai terjadinya bencana berulang.

“Penanganan bencana sudah terlaksana semuanya. Tinggal bagaimana pasca-bencana ini, apakah hanya selesai di sini atau kita mau jangka panjang supaya tidak terjadi bencana lagi,” kata Ijeck kepada wartawan, Rabu (28/1).

Ia menyoroti banjir sebagai salah satu bencana yang kerap berulang akibat persoalan klasik, seperti pendangkalan sungai dan pemanfaatan bantaran sungai yang tidak sesuai fungsi. 

Karena itu, Ijeck mendorong pengerukan sungai secara serius serta penataan kawasan bantaran agar tidak lagi dijadikan permukiman.

“Daerah-daerah sungai yang pendangkalan sungainya, sindikat dan lainnya harus segera dilakukan pengerukan. Bantaran sungai harus mulai ditata, jangan lagi ada pemukiman. Kalau tidak, pekerjaan kita akan terus berulang seperti ini,” tegasnya.

Tak hanya soal infrastruktur, legislator Golkar dari Dapil Sumut I itu juga menekankan pentingnya edukasi kebencanaan sejak dini. 

Ia mengusulkan agar materi kesiapsiagaan bencana dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan formal, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.

“Tanggap bencana ini tidak bisa seperti sekarang. Tidak hanya Basarnas. Kalau bisa dijadikan kurikulum dari mulai TK, SD, SMP, SMA. Ini harus dibiasakan dari kecil,” jelas Ijeck.

Menurutnya, ketergantungan penuh pada lembaga penanggulangan bencana tidak cukup tanpa kesiapan masyarakat. 

Ia mencontohkan Jepang, yang telah membekali anak-anak dengan pendidikan kebencanaan sejak usia dini sehingga mampu menekan jumlah korban saat bencana terjadi.

Terkait penyaluran bantuan dan relokasi korban, khususnya di Aceh, Ijeck memastikan proses tetap berjalan meski dihadapkan pada berbagai kendala teknis, seperti kondisi lahan berlumpur dan keterbatasan area relokasi.

“Sekarang ini prosesnya tetap berjalan. Memang tidak mudah, apalagi di Aceh yang masih lumpur dan harus relokasi. Tapi progres tetap ada dan terus berjalan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi di lapangan secara umum mulai menunjukkan perbaikan, meski pemulihan belum sepenuhnya tuntas. 

Ke depan, Ijeck mengingatkan agar pembangunan jalan dan jembatan dirancang lebih tangguh terhadap risiko bencana.

“Yang terpenting jalan-jalan dan jembatan. Ini harus dipersiapkan supaya jangan sampai tidak kuat kalau bencana terjadi lagi,” pungkasnya.

Komentar