Di Desa Kanekes, Dosen Mercu Buana Edukasikan Pemanfaatan Air Bagi Suku Baduy

Serang – Salah satu tugas akademisi bagi masyarakat adalah melakukan pengabdian. Hal ini sudah menjadi visi-misi setiap perguruan tinggi di Indonesia, dan wajib dijalankan oleh perguruan tinggi, baik dosen maupun para mahasiswanya.

Menjalankan pengabdian tersebut, para dosen magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana melakukan pengabdian masyarakat ke suku Baduy, Desa Kanekes, Kabupaten Serang pada, 8-9 Juli 2019. Dalam pengabdian itu, para dosen memberikan edukasi kepada masyarakat Baduy, seperti penggunaan air bersih dan pengembangan partisipasi perempuan dalam indsutri pariwisata.

Pantauan media di lokasi pengabdian, Jaro Saija (Kepala Desa –red) bersama masyarakat setempat begitu antusias mengikuti edukasi penggunaan air bersih, dan pengembangan pariwisata di Kampung Baduy luar.

Dr. Heni Gusfa bersama anak-anak suku Baduy

Anak-anak suku Baduy juga terlihat serius mendengar penjelasan dari para dosen, serta ikut mempraktekan cara penggunaan air bersih dan menggunakan sabun, baik untuk mandi maupun mencuci tangan.

Selain anak-anak, beberapa perempuan dewasa suku Baduy juga ikut serta dalam pelatihan pengembagangan partisipasi perempuan dalam industry pariwisata. Para perempuan suku Baduy pun sesekali menunjukan hasil karya mereka, seperti kain tenun khas Baduy, baju hingga madu asli Baduy.

Kegiatan masyarakat ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat Baduy dalam membangun jaringan air menjadi factor utama dalam perkembangan perekonomian, kesehatan dan budaya. Selain itu, juga menginformasikan tentang manfaat dan kegunaan air dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajak atau mempersuasi mencuci tangan dengan menggunakan sabun dengan benar bagi masyarakat setempat, terkhusus bagi anak-anak.

Pulung (26) pemuda suku Baduy mengaku senang dengan kunjungan para dosen Universitas Mercu Buana, karena ada hal-hal baru yang disampaikan ke masyarakat Baduy.

“Kami sangat bersyukur dengan adanya kunjungan dan sosialiasi penggunaan sabun dan air beraih seperti ini,” kata Pulung, Senin (8/7) kemarin.

“kalau saya itu selalu mengajarkan anak-anak untuk selalu mencuci tangan sebelum makan. Tapi saya tidak tau yang lain ya,” sambung Pulung.

Dikatakan lelaki yang akrab disapa Kang Pulung ini, sosialisasi penggunaan sabun dan air bersih ini sangat baik. Namun, baiknya pelatihan pengguna teknologi juga sangat baik bagi anak-anak suku baduy luar.

“Bagus sosialisasi seperti ini. Saya lihat, banyak anak-anak Baduy ingin belajar menggunakan media sosial, baik facebook maupun youtube. Jadi, bagusnya mereka dikasih pelatihan juga,” harapnya.

(RGR)