LIPUTAN.CO.ID, Jakarta — Di tengah hiruk pikuk Ibu Kota, kabar bahagia datang dari aula Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).
Seorang anak petani asal Timika, Papua, resmi menyandang gelar doktor Administrasi Publik. Ia adalah Dr. Ariawan, sosok yang membuktikan bahwa tekad dan semangat jauh lebih kuat dari segala keterbatasan ekonomi.
Ariawan bukan berasal dari keluarga berada. Orang tuanya adalah petani sederhana, bagian dari program transmigrasi dari Jawa Tengah ke Papua pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Hidup jauh dari kota besar tak menyurutkan cita-citanya untuk menuntut ilmu setinggi langit.
“Gelar Doktor saya ini menjadi bukti bahwa anak petani yang memiliki semangat juga bisa kuliah hingga ke jenjang yang paling tinggi,” ujar Ariawan penuh haru usai sidang promosi doktor di Jakarta, Sabtu (18/10/2025).
Perjalanan panjang Ariawan di dunia pendidikan tidak mudah. Sebelum meraih gelar doktor, ia lebih dulu dikenal sebagai wartawan di sejumlah media swasta nasional.
Ketekunannya menulis dan mencari kebenaran membawanya naik ke posisi puncak redaksi di beberapa media besar seperti Sinpo dan Bernas (Berita Nasional).
Kini, perjuangannya berbuah manis. Ariawan dipercaya negara untuk duduk sebagai Komisaris dan juga menjabat Dewan Pengawas di Kantor Berita Antara, lembaga berita resmi pemerintah.
Namun di balik semua pencapaian itu, ia tetap menunduk rendah, menyebut semua keberhasilan ini sebagai buah dari doa dan kerja keras keluarganya.
“Saya berharap gelar ini dapat memotivasi bagi sesama wartawan agar dapat terus belajar di tengah kesibukannya dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis,” lanjutnya.
Pihak kampus pun mengapresiasi ketekunan Ariawan yang meneliti soal sistem kearsipan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Syaifullah, mengatakan hasil penelitian Ariawan memiliki kontribusi praktis yang signifikan bagi tata kelola lembaga negara.
“Tentunya secara praktis berkontribusi terhadap hal yang diteliti. Yaitu sistem kearsipan di DPR,” ujar Syaifullah.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan Ariawan menjadi contoh nyata bahwa pendidikan tinggi tidak semata soal kemampuan finansial, melainkan tentang motivasi dan tekad untuk maju.
“Jadi memang saya setuju dengan Doktor Ari, bahwasannya pendidikan ini bukan persoalan pembiayaan tapi persoalan motivasi,” tuturnya.
Bagi Syaifullah, kisah seperti Ariawan perlu menjadi inspirasi bagi masyarakat di lapisan terbawah agar berani bermimpi menempuh pendidikan tinggi.
“Kita harus bisa menyentuh masyarakat paling tingkat bawah agar mau sekolah, agar mau mencapai pendidikan yang lebih tinggi lagi,” tambahnya.
Kini, nama Dr. Ariawan bukan hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga kecilnya di Timika, tetapi juga simbol harapan bagi banyak anak muda di pelosok negeri.
Bahwa anak petani pun bisa menulis sejarahnya sendiri dengan pena, kerja keras, dan keyakinan bahwa tak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang berani memperjuangkannya.







Komentar