Dari Air Mata ke Tawa, Kisah Ibu Halija dan Rumah Tua Penuh Cinta

Hari itu, 22 Desember 2022, Hari Ibu. Di Desa Elfule, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan, laut bergerak pelan menggerus daratan. 

Abrasi pantai menjadi agenda utama kunjungan kerja Saadiah Uluputty, Anggota Komisi V DPR RI, bersama Bupati Buru Selatan, La Hamidi. 

Mereka menemui tetua adat, meninjau talud penahan pantai, dan mencatat kerusakan yang perlahan mengancam permukiman warga. Namun, di sela kunjungan itulah sebuah rumah kecil mencuri perhatian.

Atapnya rusak berat, sebagian nyaris terbuka. Dari luar, rumah itu tampak sunyi, seolah sudah lama ditinggalkan. Saadiah sempat mengira tak ada lagi kehidupan di dalamnya, hingga pintu dibuka, dan dari balik ruang sempit itu muncul seorang ibu yang sedang memasak.

Namanya Halija Soulisa, berusia sekitar 60 tahun lebih. Ia memilih tetap tinggal di rumah yang dibangunnya bersama mendiang suaminya, meski waktu dan cuaca perlahan meruntuhkannya. 

Rambutnya mulai memutih, tetapi tekadnya tidak ikut rapuh. Di rumah itulah ia hidup bersama tiga anaknya, menjaga kenangan yang tak tergantikan.

Rumah itu berukuran 6 x 8 meter, hampir seluruh bagian atasnya rusak. Jendela dan pintu telah lapuk, kayu-kayu tua tak lagi kokoh, namun bagi Halija, rumah bukan sekadar bangunan, ia adalah tempat berlindung, tempat anak-anak dilahirkan, tempat keluarga berhimpun. 

Rumah adalah rasa “pulang”, ruang di mana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya. Di Hari Ibu itu, Halija ingin tetap menjadi dirinya seorang ibu yang bertahan.

“Dalam kesendirian ini Allah mengizinkan saya bisa masuk, melihat dan menyapanya, agar hati ini menjadi lembut, jiwa meronta,” kenang Saadiah.

Bahwa di Hari Ibu, seorang ibu harus tetap kuat, harus terus berjuang, dan harus terus peduli, meski hidup tak selalu memberi pilihan mudah.

Pertemuan itu menjadi lebih dari sekadar kunjungan lapangan, ia menjadi potret nyata tentang bagaimana kemiskinan perumahan masih hadir di banyak sudut negeri, jauh dari sorotan. Sore itu, emosi tak terbendung.

“Merubah tangis menjadi tawa kebahagiaan adalah harapan setiap orang yang rumahnya seperti ibu Halija Soulisa. Sore itu, Ibu Halija tak tahan menahan tangisnya, hingga tangis itu akhirnya pecah di pelukan Saadiah membuat suasana semakin haru. Rumah itu sekarang sudah menjadi rumah layak huni,” tutur Saadiah.

Sebagai anggota Komisi V DPR RI, Saadiah membawa kisah itu ke ruang yang lebih luas, ruang pengambilan kebijakan.

“Setelah saya berada di Komisi V yang bermitra dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, tentu salah satu perhatian saya adalah mampu melihat dan menampung data soal kondisi rumah dan kawasan yang masih kumuh agar bisa disuarakan langsung dalam ruang pengambilan kebijakan,” ujarnya.

Respons pun datang, bantuan mengalir, rumah Halija diperbaiki, bukan dengan proses panjang yang berbelit, melainkan melalui gotong royong dan kepedulian.

“Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak dalam respon cepat menyelesaikan rumah ini,” kata Saadiah.

“Terutama tim bedah rumah dari anak-anak muda pendatang dari Desa Negeri Lima yang gerak cepatnya dengan sukarela tanpa dibayar dan bisa sehari langsung selesai rehab rumah tersebut. Mudah-mudahan menjadi amal kebaikan kita semua,” tuturnya.

Bagi Saadiah, rumah Halija bukanlah satu-satunya, ia adalah wajah dari banyak cerita serupa di pelosok Indonesia.

“Potret seperti ini kan kami bawa ke ruang-ruang sidang bahwa banyak masyarakat yang menangis, banyak yang berharap, menunggu dan berharap tangisan itu menjadi tawa kebahagiaan,” ujarnya.

Dan di Desa Elfule, pada Hari Ibu itu, harapan benar-benar menemukan jalannya. “Seperti tawa ibu Halija yang Allah takdirkan kami ikut respon cepat menyelesaikan rumahnya,” ucapnya.

Di tengah abrasi pantai dan rumah yang nyaris roboh, Hari Ibu menjadi penanda bahwa kepedulian, jika hadir tepat waktu, mampu mengubah air mata menjadi senyum, dan rumah rapuh menjadi tempat pulang yang layak kembali.

Komentar