Bahlil Kawal Investasi Proyek Petrokimia Rp 60 Triliun, Pengamat: Harus Dukung Penuh

JAKARTA – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menegaskan akan mengawal pembangunan mega proyek PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten.

Proyek senilai Rp 60 triliun itu diharapkan dapat menciptakan efek domino bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja.

Direktur Eksekutif Center for Research on Ethics Economics and Democracy (CREED) Yoseph Billie Dosiwoda mengapresiasi Menteri Bahlil yang turun langsung untuk mengawal proyek tersebut karena dinilai sebagai langkah penting dalam upaya hilirisasi industri.

“Untuk itu, proyek dengan nilai investasi puluhan triliun yang masih dalam tahap pembangunan di Cilegon ini harus mendapatkan dukungan penuh dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat Indonesia,” ujar Yoseph, Jumat (15/9/2023).

Yoseph meminta Bahlil tidak hanya mengawal pembangunannya melainkan juga memastikan terjadi penyerapan tenaga kerja dan juga negara mendapatkan pajak dari perusahaan tersebut.

“Tidak hanya akan mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi proyek tersebut juga bisa menciptakan lapangan kerja baru, serta memastikan pengelolaan pembagian pajak yang bijaksana demi keuntungan negara,” ucapnya.

Yoseph juga setuju dibangun nya pabrik Petrokimia ini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dahulu sebelum dilakukan ekspor.

Dengan demikian kata Yoseph dampak positif lainnya ialah akan mengurangi ketergantungan pada impor, terutama dari Cina, dan secara bertahap meningkatkan kemampuan untuk ekspor sambil memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Hal ini memiliki dampak positif karena menggantikan impor petrokimia yang sebelumnya dilakukan. Yang terpenting, pemerintah harus konsisten dalam menjalankan kebijakan ini setelah proyek selesai dibangun dan beroperasi,” bebernya.

Diketahui hingga saat ini, proyek ini telah menyerap sekitar 13.406 pekerja dalam tahap konstruksi.

Yoseph menegaskan bahwa perusahaan harus memberikan prioritas kepada masyarakat setempat dalam penyerapan tenaga kerja.

“Hal ini sesuai dengan tujuan hilirisasi industri untuk menciptakan lapangan kerja baru, yang menjadi hal sangat penting mengingat dampak pengangguran dari sektor riil yang dirasakan oleh masyarakat,” urainya.

Yoseph juga mengingatkan pentingnya memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal dan menghindari penggunaan tenaga kerja impor atau Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China.

Hal ini sesuai dengan UU Cipta Kerja (omnibus law) yang bertujuan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Regulasi ini harus diterapkan dengan benar agar tidak hanya menguntungkan pengusaha, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan para pekerja sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat dari Lembaga Analisis Politik Indonesia, Maksimus Ramses Lalongkoe, turut memberikan pandangannya mengenai sikap tegas Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.

Menurutnya, Bahlil menunjukkan komitmennya sebagai regulator yang sangat peduli terhadap pentingnya investasi dalam negeri.

“Tegasnya Bahlil ingin menunjukkan komitmennya sebagai regulator bahwa sangat penting investasi dalam negeri demi kepentingan ekonomi masyarakat dan penyerapan tenaga kerja. Dengan tegas, dirinya mengawal mega proyek tersebut, memberikan sinyal bahwa situasi politik Indonesia menjamin investasi bagi para investor,” ujar Ramses.

Pemerintah Indonesia memahami bahwa produksi petrokimia merupakan hal yang sangat strategis dan diincar oleh banyak negara industri.

Oleh karena nya, menurut Ramses langkah itu sudah tepat untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kapabilitas yang sangat mumpuni dalam industri petrokimia.

“Saya kira ini keputusan yang sangat tepat. Bahlil ingin mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia sangat bisa dan sangat siap dalam konteks industri ini, serta memiliki kemampuan sumber daya manusia yang unggul,” tukasnya. (***)

Komentar