Rupiah Jeblok, Politikus PAN Pertanyakan Kinerja Bank Indonesia

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio mempertanyakan kinerja Bank Indonesia (BI) dalam merespons pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan yang terjadi di pasar keuangan nasional.

Masalahnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan adanya persoalan serius yang perlu segera dijawab oleh otoritas moneter.

Menurut politikus PAN itu, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di atas lima persen tidak sejalan dengan kondisi rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan sejumlah mata uang asing lainnya.

Primus juga menyinggung kondisi indeks pasar saham Indonesia yang dinilai tertinggal dibanding negara lain yang sudah lebih dulu pulih dari tekanan global.

“Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen. Tetapi nilai tukar rupiah jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar,” kata Primus saat Rapat Kerja Komisi XI DPR RI dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ia mengatakan kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik terhadap kualitas dan kredibilitas Bank Indonesia sebagai bank sentral.

Menurutnya, pelemahan rupiah bukan hanya terjadi terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi juga terhadap berbagai mata uang negara lain.

Primus mengungkapkan, telah berulang kali mempertanyakan kondisi tersebut dalam rapat bersama Bank Indonesia.

Melemahnya nilai tukar rupiah harus dilihat secara realistis dan tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa di tengah dinamika ekonomi global saat ini.

“Kenapa rupiah kita ini lemah? Kalau dibandingkan dengan dolar. Tapi faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Rial,” ujarnya.

Primus menilai kondisi tersebut berdampak pada tingkat kepercayaan publik terhadap Bank Indonesia. Oleh karena itu, dia meminta pimpinan BI berani mengambil langkah tegas dan bertanggung jawab atas situasi yang terjadi demi memulihkan kepercayaan masyarakat dan pelaku pasar.

“Apa yang terjadi saat ini, menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah menyampingkan kredibilitasnya,” pungkas Primus.

Komentar