LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Ketua Panitia Khusus atau Pansus RUU Daerah Kepulauan DPR RI, Mercy Chriesty Barends melihat ketimpangan nyata antara pertumbuhan ekonomi makro dengan realitas ekonomi mikro di daerah kepulauan.
Menurut Mercy, berbagai proyek ekstraktif berskala besar nasional belum memberikan dampak keadilan bagi kesejahteraan masyarakat kecil di sekitarnya.
“Sehingga, tadi apa yang menjadi pandangan Ibu, dari INDEF, Ibu Esther. Buat saya, saya tidak ingin mendebatkan variable-variable yang ada. Kita kasih contoh, Maluku Utara. Angka pertumbuhan hari ini paling tertinggi di seluruh Indonesia Raya, 19,64 persen. Ini semua daerah-daerah kepulauan. Sultra, di atas pertumbuhan ekonomi nasional. 6 atau 7 persen. Kepri, 7 sampai 8 persen,” kata Mercy, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Pansus RUU Daerah Kepulauan, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Politikus PDI Perjuangan itu menyayangkan tingginya pertumbuhan daerah berbasis kepulauan justru melahirkan kemiskinan akut akibat minimnya distribusi keadilan dari hasil industri minyak dan gas maupun pertambangan.
“Pertumbuhan ekonomi makro ini tidak beririsan langsung dengan pertumbuhan ekonomi mikro, Bu. Jadi, itu duduk persoalannya di sana. Mereka tumbuh di sana rata-rata, 35 sampai 65 persen angka pertumbuhan mereka karena proyek-proyek ekstraktif. Baik tambang, nikel, apa segala macam. Termasuk lifting minyak dan gas dan seterusnya. Masyarakat kecil tidak dapat apa-apa,” ungkap Mercy.
Bahkan, lanjutnya, yang terjadi kemiskinan akut yang ada di sekitarnya karena tidak terjadi distribusi keadilan terhadap proyek-proyek besar nasional yang ada. “Sultra hari ini punya 10 program prioritas nasional, di sekitarnya miskin,” jelasnya.
Oleh karena itu, wakil rakyat dari daerah pemilihan Maluku itu minta perumusan undang-undang kepulauan menggunakan indikator yang berbeda dari wilayah daratan karena karakteristik pulau kecil yang sangat unik.
“Seperti itu, jadi buat saya ini memang anomali yang terjadi bagi kami di pulau-pulau kecil, di pulau-pulau daerah kepulauan sehingga kalau kita menggunakan pendekatan-pendekatan yang tadi saya coba lihat, tidak bakalan ketemu, Bu. Dengan variabel-variabel yang tadi coba Ibu konsultasi, tidak bakalan ketemu karena variabel di daerah-daerah kepulauan ini memang sangat karakteristik base, sangat unique base,” pungkasnya.







Komentar