oleh

Mahyudin: Kampus Jangan Diam Saja, Bantu DPD RI Bisa Diperkuat

Liputan.co.id, Semarang – Wakil Ketua DPD RI Mahyudin mengatakan Indonesia harus berkaca kepada banyak negara termasuk sejumlah negara besar dan mapan berdemokrasi, yang sukses menerapkan parlemen bikameral, misalnya Inggris, Belanda, Jepang, Prancis, Spanyol, Italia dan lain-lain.

Bahkan kata Senator dari Provinsi Kalimantan Timur itu, ada yang menerapkan bikameralisme murni (strong bicameral) seperti Aljazair.

Menurutnya, bagi banyak negara besar yang demokratis, sistem bikameral merupakan suatu keniscayaan.

“Sistem bikameral dalam demokrasi merupakan suatu keniscayaan. Walaupun bentuknya berbeda dengan Indonesia,” kata Mahyudin, saat membuka FGD bersama Universitas Diponegoro, bertema “Perspektif Daerah Untuk Optimalisasi Peran DPD RI”, di Semarang, Jawa Tengah, Senin (13/9/2021).

Mantan Wakil Ketua MPR RI menjelaskan, lahirnya DPD RI karena sebelumnya tidak ada check and balances dalam praktek keparlemenan Indonesia. Untuk itu diperlukan sistem bikameral atau kamar kedua, yang mewakili perwakilan dari daerah.

“Kenapa demikian? karena Indonesia negara besar dan mayoritas berpusat di Pulau Jawa. Negara ini didirikan untuk semua kalangan, bukan suatu kelompok atau perorangan. Maka lahirlah kamar kedua untuk menyuarakan aspirasi daerah yaitu DPD RI,” ujarnya.

Mahyudin menegaskan, selama ini Indonesia terlalu sentralistik yang bermuara pada Pulau Jawa. Jika melihat dari keterwakilan di Senayan, wilayah yang besar akan memiliki porsi yang besar juga.

“Selama ini jika dilihat dari Jawa Tengah untuk duduk di DPR RI membutuhkan 50 ribu suara. Tetapi DPD RI harus membutuhkan 1,4 juta suara. Artinya, masyarakat menaruh kepercayaan lebih kepada DPD RI,” terangnya.

Mahyudin berharap kampus jangan diam saja melihat lemahnya kewenangan DPD RI. Kampus-kampus juga harus membantu berfikir bagaimana memperkuat DPD RI. “Kampus-kampus jangan diam saja harus bantu kami berfikir bagaimana DPD RI ke depan bisa diperkuat. Maka hemat saya amendemen kelima menjadi keharusan,” harapnya.

Ia menilai sistem bikameral juga menjadi keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Dengan demikian akan menciptakan demokrasi yang sehat, sehingga Undang-Undang yang lahir akan lebih berkualitas dan berkeadilan.

“Bikameral yang kuat tidak bisa ditawar lagi, karena dinamikanya akan menciptakan produk-produk perundangan yang adil dan berkualitas. Keputusan-keputusan itu juga dapat menciptakan kesempatan munculnya calon pemimpin independen yang mumpuni sehingga akan terbuka luas bagi siapa pun yang ingin maju sebagai calon presiden, anggota DPR RI, dan DPD RI,” papar Mahyudin.

Ketua Departemen Ilmu Politik dan Pemerintah Undip Nur Hidayat Sardini menjaskan, DPD RI mempunyai peran penyeimbang dalam menghadapi oligarki. Untuk itu DPD RI harus di ‘setup‘ kembali.

“Memang cara ini tidak akan berhasil karena ada kekhawatiran dalam proses pengambilan keputusan, maka dimatikanlah DPD RI. Bila perlu kedepannya DPD RI harus mempunyai hak veto, DPR RI saat ini seperti pemain tunggal, karena tidak ada check and balances,” ujar Sardini.

Di kesempatan yang sama, Kepala Biro Pemerintahan, Otonomi Daerah dan Kerja Sama Provinsi Jawa Tengah Muhamad Masrofi mengatakan DPD RI merupakan jelmaan utusan daerah, setelah otonomi daerah maka munculah DPD RI. DPD RI sama seperti Senator di Amerika tapi berbeda jauh kewenangannya.

Permasalahannya kewenangan DPD RI pada Pasal 22D UUD 1945. Jadi ada kata ‘dapat’ di dalamnya. Kata dapat ini sebenarnya yang membelenggu DPD RI,” terangnya.

Kepala Departemen FISIP Undip Yuwanto menambahkan kehadiran DPD RI penting, tapi kehadirannya sejauh ini tidak dirasakan. Ia menilai DPD RI perlu di optimalisasi dalam kewenangannya maka diperlukan amendemen.

“Jangan ada keraguan, memang perlu ada amendemen. Sebab jika DPD RI tidak memiliki kewenangan terkait fungsi otonomi daerah atau pemanfaatan SDA maka akan dikuasai oleh oligarki,” imbuhnya.[liputan.co.id]

Komentar