Pilih Andika Jadi Panglima, Jokowi Dinilai PKS Cerdik

Liputan.co.id, Jakarta – Wakil Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari melihat bahwa poros yang bermain di Laut Natuna Utara adalah China dan posisinya cukup kuat, sementara Amerika Serikat atau AS relative masih diam sehingga AS membuat aliansi AUKUS dengan Australia dan Inggris. Dan dengan memiliki Jenderal Andika Perkasa sebagai calon Panglima TNI merupakan langkah cerdik Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

“Saya kira ini langkah cerdik Pak Jokowi untuk memberikan keseimbangan, kekuatan, keseimbangan pengaruh di Laut Natuna Utara, saya membacanya seperti itu,” kata Kharis dalam diskusi Empat Pilar MPR RI bertajuk “Panglima TNI Baru dan Tantangan Ketahanan NKRI”, di Media Center DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (8/11/2021).

Karena, kata Kharis, suka tidak suka harus diakui bahwa memang Jenderal Andika adalah didikan di Amerika, paling tidak dia sangat dekat dengan Amerika, tetapi bukan berarti juga bermusuhan dengan Cina.

“Ya tetap semua bersahabat, cuman bahwa intensi Jenderal Andika lebih dekat ke Amerika, sulit untuk dibantah,” imbuh politikus Partai Keadilan Sejahtera atau PKS itu.

Menurutnya, selama ini Indonesia ingin menjaga kedaulatan NKRI daripada menjaga jarak yang sama, kalau menjaga jarak itu berarti tidak ada kerja sama. Sehingga, dirinya lebih suka menggunakan istilah Indonesia ingin menjaga kedekatan yang sama terhadap dua poros kekuatan yang sedang bermain atau yang sedang sama-sama adu pengaruh di Laut Natuna Utara.

“Nah kira-kira Jenderal Andika mampu apa nggak, dengan kemampuan diplomasi militer yang sangat kuat, dengan performa yang sangat bagus, saya yakin jenderal Andika mampu memerankan ini dengan baik,” ujar Kharis.

Kharis pun mengungkap diskusi yang terjadi dalam uji kepatutan dan kelayakan kemarin, ada hal yang menarik mengenai jawaban Andika soal bagaimana mengeliminasi atau untuk memberikan perubahan persepsi terhadap Indonesia dari masalah-masalah yang selama ini menyangkut Papua atau masalah-masalah pertahanan lainnya, karena Indonesia selalu pada posisi salah.
Terungkap, karena Head Quarter Asosiasi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Asia-Pasifik, tidak ada pekerja kantornya yang berasal dari Indonesia, sebagian besar dari Papua Nugini.

“Dalam Asosiasi Kepala Staf Angkatan Darat se-Asia Pasifik yang kemarin barusan ketemu di Miami itu, ternyata di head quarternya (markas) sana-sana itu kebanyakan orang-orang Papua Nugini. Tak satu pun orang tentara Indonesia kerja di sana, wajar kalau kemudian para pimpinan yang ada di kantor pusat sana tak memiliki informasi lengkap tentang Indonesia,” ungkapnya.

Dijelaskannya, apa yang disampaikan oleh para staf yang kebanyakan adalah orang Papua Nugini. Sehingga, Andika ingin para tentara ini dibekali dengan kemampuan bahasa yang bagus, skil yang bagus sehingga memungkinkan untuk kerja di kantor-kantor seperti itu.

“Sehingga para pengambil keputusan, itu mendapatkan informasi yang seimbang dan memperkecil bias informasi yang masuk pada para pengambil keputusan ini saya kira langkah cerdas yang akan dilakukan oleh beliau dan saya yakin beliau akan mampu untuk membangun bangun itu,” paparnya.[liputan.co.id]

Komentar