LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Wakil Ketua Umum PP Muhammadiyah Anwar Abbas membenarkan pernyataan anggota Komisi II DPR RI periode 2019-2024 Guspardi Gaus yang menyebut pemimpin di Indonesia tidak takut dengan Tuhan.
Karena tidak ada rasa takut, kata Anwar Abbas, sehingga berani melakukan berbagai hal yang jelas-jelas dilarang oleh agama dan sekaligus melawan hukum.
Hal itu dikatakan Anwar Abbas dalam acara Silaturrahmi dan Bedah Buku Drs. Guspardi Gaus M.Si, dalam rangka 70 Tahun Guspardi Gaus, Peluncuran 7 Buku dan Diskusi Panel, bertajuk “Refleksi Pemikiran Politik dan Kenegaraan Guspardi Gaus”, di Ruang Delegasi MPR RI, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
“Benar kata Guspardi Gaus, pemimpin di Indonesia tidak takut dengan Tuhan. Beda dengan Singapura bahkan dengan Israel dan Korea Utara sekali pun, yang bisa maju, itu karena memang ada rasa takut,” kata Anwar Abbas.
Negara Indonesia ini menurut Anwar Abbas, tidak bisa maju, karena pemimpinnya tidak ada takutnya, termasuk kepada Tuhan.
Dalam acara tersebut, Anwar Abbas juga menjelaskan posisinya di era Presiden Joko Widodo. Dikatakannya, 10 tahun Jokowi berkuasa, banyak topik yang telah disampaikannya ke publik, sebagai respon atas kebijakan Presiden Jokowi yang banyak bertentangan dengan pikirannya.
“Di era Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini saya kehilangan topik tentang apa yang akan dikritik karena tidak ada gagasan Prabowo yang bertentangan dengan saya.
Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih saya setuju, yang bermasalah adalah implementasinya,” kata Anwar.
Lebih lanjut, dia juga menilai Guspardi Gaus tidak cerdas. Yang cerdas, menurut Anwar Abas adalah istri Guspardi Gaus. Tapi Yang pintar bergaul adalah Guspardi Gaus.
“Guspardi sukses berusaha bukan karena doa dari keluarganya, tapi karyawannya yang rata-rata berasal dari keluarga susah, yatim yang selalu berdoa agar usaha Guspardi Gaus terus berkembang,” ungkap mantan Sekjen MUI itu.
Ahmad Doli Kurnia Tanjung
Ketua Komisi II periode 2019-2024 dapat MURI karena hasilkan 161 UU. Itu tak bisa dilepaskan dari kontribusi GG.
Periode ini juga maskot Komisi II itu adalah GG, karena setiap RDP selalu ngomong.
Mitra selalu memperhitungkan GG ini dalam RDP.
Kalau bicara selalu direkam sendiri dan bikin beritanya lalu dikirim ke media.
Bicara di RDP itu tak lebih dari 5 menit. GG ini kalau bicara pasti lebih 15 menit. Suatu ketika saya batasi selama 5 menit. Lalu saya malah dimarahi, dengan balasannya “saya bicara atas dasar hak konstitusi”. Kalau sudah begitu saya diam, tapi sebagai ketua saya harus ingatkan anggota dalam setiap RDP dan sekaligus mencegah kecemburuan anggota lain kepada pimpinan.
Kalau ke LN selalu bawa rendang. Jadi GG selalu dicari, bang GG mana, karena belum ada rendang.
Kalau PAN tak kasih nomor jadi, lapor ke saya, maju dari Golkar.
Mardani (ketua pemenangan Pemilu PKS), tak mau ketinggalan, silakan ke PKS, agar bisa kembali ke parlemen lagi.
Din Sjamsuddin
GG sahabat baik dan karib sejak 1976 di UIN.
Anwar Abbas senior kami, PP Muhammadiyah Din Ketum, maka Abbas ketua. Sudah saya kalahkan.
Tapi kalau diperintah oleh Abas dan GG saya harus patuhi.
GG ini sejak di IMM saya nilai sudah sangat pemberani. GG berani merebut ketua cabang IMM. Ini memengaruhi saya, harus punya semangat mendobrak.
GG ini juga dikenal sebagai akademisi, tapi berhenti dari akademisi. Lalu jadi pengusaha sebelum terjun ke dunia politik.
Dengan keberanian, itulah yang direfleksikan saat jadi anggota DPR. Ini baru pertama kali mantan anggota DPR dapil Sumbar yang menulis buku. Perlu ditiru oleh anggota lainnya.
Irman Gusman
Banyak orang yang tak tahu GG dengan saya. GG ini adik bungsu Ayah saya namanya (…)
Nama paspor saya Irman Gusman Gaus.
NU dan Muhammadiyah di Sumbar tidak ada bedanya karena pendirinya belajar dengan Minang di Kairo, Mesir.
Hidup itu tidak ada tantangan kalau tidak ada badai. Usia kecil ibunya sudah tidak ada dan keluarga berharap GG jadi pendakwah.
Dan itu terpenuhi, cuma dakwahnya dari pasar ke pasar, parlemen ke parlemen, tidak dari masjid ke masjid.
GG itu orangnya lurus-lurus saja, tidak seperti saya ada belok-beloknya dan itu belok-beloknya sudah saya diselesaikan di dunia. Itu ada bagusnya dari pada nanti di akhirat.







Komentar